Jakarta Masih diguyur hujan lebat dan prediksi banjir.
Tapi tetap saya dan siapapun tidak bisa menebak
akankah musibah ini singgah dan memporak porandakan
semua yang kita cintai.
Saya hanya bersujud mengharap yang terbaik untuk kita semua.
Saya tetap mencium tangan dan mencium ibu dan bapak saya
setiap saat saya meninggalkan mereka
serta membisikkan I love you dalam hati
dan mendoakan keselamatannya.
Juga mendoakan semua jiwa yang saya cintai
dalam setiap kesempatan ketika saya bicara padaNya.
Saya menghargai setiap detik yang saya miliki
dengan syukur yang tak pernah habis.
Mengingat keindahan dalam hidup yang saya lalui.
Tidak semua yang kita miliki dapat kita bawa
ketika musibah akhirnya terjadi.
Saya membayangkan kemungkinan terburuk.
Saya memang selalu membayangkan kemungkinan yang paling pahit untuk mempersiapkan diri menghadapi segala yang nyata.
Apa yang belum saya lakukan
ketika saya tidak punya waktu lagi untuk melakukannya?
Saya sama sekali tidak mengingat materi.
Semua menjadi tidak penting seketika.
Saya hanya mengingat apa saja yang sudah saya lakukan
untuk semua yang saya cintai.
Apakah saya sudah melakukan yang terbaik untuk hidup saya?BELUM!!!
Saya selalu menunda semuanya.
Saya belum melakukan yang terbaik untuk diri saya
dan semua yang saya cintai.
Tiba-tiba semua menjadi dekat.
Menjadi pendek.
Tidak ada lagi hari esok.
Semua adalah hari ini.
Hari ini menjadi penentuan.
Apa yang sudah saya lakukan hari ini?
Apakah saya sudah melakukan yang terbaik hari ini?
Hiduplah untuk hari ini, karena mungkin tidak ada lagi hari esok.
Seketika saya teringat dia.
Teringat ketakutannya.
Teringat keraguannya.
Keraguan apakah saya tulus mencintainya.
Setulus apapun saya mencintainya, dia tetap dalam kebimbangannya.
Tapi saya tidak peduli.
Saya tetap mencintainya…
Saya tetap membisikkan kata cinta untuknya
dengan keyakinan
tanpa keraguan.
Meskipun hanya dalam hati.meskipun lirih.tidak terdengar.
(Saya pun tak mampu berharap banyak dia merasakan apa yang saya rasa)
Cuma itu ketakutan saya ketika sesuatu yang terburuk menimpa saya, nanti.
ketika saya tidak punya banyak waktu menyatakan semua yang ada dalam hati padanya.
Ughh..saya tak mampu lagi bicara.semoga masih ada waktu untuknya membuka mata
dan merasa segala yang saya rasakan.
Selasa, 27 Januari 2009
Lawan Kata
kenapa pilih mati kalau ada hidup?
kenapa pilih sedih kalau ada senang?
kenapa pilih nangis kalau ada tawa?
Kenapa pilih sakit kalo ada sembuh?
kenapa pilih jatuh kalau ada bangun?
kenapa pilih gila kalau ada waras?
kenapa pilih tenggelam kalau ada terbit?
Kenapa pilih gelap kalo ada terang?
kenapa pilih redup kalau bisa bersinar?
kenapa pilih pisah kalau ada bersatu?
kenapa pilih pergi kalau ada kembali?
kenapa pilih sendirian kalau bisa bersama?
kenapa pilih perang kalau bisa damai?
kenapa pilih luka kalau ada suka?
kenapa pilih ribut kalau ada tenang?
kenapa pilih benci kalau ada sayang?
kenapa pilih minta kalau ada kasih?
kenapa pilih tinggi hati kalau bisa rendah hati?
kenapa pilih kasar kalau ada lembut?
kenapa pilih dingin kalau ada hangat?
kenapa pilih takut kalau ada berani?
kenapa pilih kecewa kalau ada puas?
kenapa pilih ragu kalau ada yakin?
kenapa pilih rumit kalau bisa gampang?
kenapa pilih negatif kalau ada positif?
kenapa pilih diam kalau ada melawan?
...selalu ada pilihan,bahkan kata pun bisa melawan nasibnya :)
kenapa pilih sedih kalau ada senang?
kenapa pilih nangis kalau ada tawa?
Kenapa pilih sakit kalo ada sembuh?
kenapa pilih jatuh kalau ada bangun?
kenapa pilih gila kalau ada waras?
kenapa pilih tenggelam kalau ada terbit?
Kenapa pilih gelap kalo ada terang?
kenapa pilih redup kalau bisa bersinar?
kenapa pilih pisah kalau ada bersatu?
kenapa pilih pergi kalau ada kembali?
kenapa pilih sendirian kalau bisa bersama?
kenapa pilih perang kalau bisa damai?
kenapa pilih luka kalau ada suka?
kenapa pilih ribut kalau ada tenang?
kenapa pilih benci kalau ada sayang?
kenapa pilih minta kalau ada kasih?
kenapa pilih tinggi hati kalau bisa rendah hati?
kenapa pilih kasar kalau ada lembut?
kenapa pilih dingin kalau ada hangat?
kenapa pilih takut kalau ada berani?
kenapa pilih kecewa kalau ada puas?
kenapa pilih ragu kalau ada yakin?
kenapa pilih rumit kalau bisa gampang?
kenapa pilih negatif kalau ada positif?
kenapa pilih diam kalau ada melawan?
...selalu ada pilihan,bahkan kata pun bisa melawan nasibnya :)
Berhentilah Menjadi Gelas

Bukan hidup jika tanpa masalah.
Namun meratapi kesedihan dan nasib buruk
hanya membuat kita makin menjauh
dari hal-hal indah yang patut kita syukuri.
Seperti segenggam garam yang terlarut dalam segelas air.
Jika kita minum, perut jadi mual dan mau muntah.
Tapi jika segenggam garam itu kita tabur pada danau yang bening dan jernih,
apakah kita masih merasakan rasa asinnya?
Tentu saja tidak.
Karena air danau berasal dari aliran sumber air di atas
yang terus mengalir menjadi sungai kecil di bawah.
Dan sudah pasti, air danau akan menghilangkan rasa asin yang tercipta dari segenggam garam.
Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam.
Tidak kurang, tidak lebih.
Hanya segenggam garam.
Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kita alami
sepanjang kehidupan sudah dikadar oleh Allah,
sesuai untuk diri kita.
Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah.
Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian.
Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi,
yang bebas dari penderitaan dan masalah.
Namun rasa 'asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat
tergantung dari besarnya Qalbu yang menampungnya.
Jadi supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas.
Jadikan Qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.
Jumat, 23 Januari 2009
RINDU

Sebuah rasa yang terus mengganggu tanpa bisa terlampiaskan.
Keadaan di mana harus kuat menahan gemuruh di dada.
HARUS KUAT!!!
SEKUAT BAJA??
(((padahal aku cuma manusia biasa)))
Saya berusaha keras untuk tidak menutup mata,
ketika melihat pasangan-pasangan bahagia di sebelah sana,
yang bertatapan mesra dengan tangan saling bergenggam erat.
Menggenggam hati bukan birahi.
Sumpah bukan sirik…
bukan iri…
BUKAAAAN!!!
Saya hanya merindukan saat-saat penuh cinta.
(dengan hati yang penuh cinta tentunya, bukan setengah, seperempat atau seperlima ;p)
Indah banget lho pemandangan sepasang kekasih yang bergengaman tangan.
Menggenggam jemari sambil menyelami hati dari mata yang berbinar cinta.....
Saya kangen di genggam seperti itu...
Keadaan di mana harus kuat menahan gemuruh di dada.
HARUS KUAT!!!
SEKUAT BAJA??
(((padahal aku cuma manusia biasa)))
Saya berusaha keras untuk tidak menutup mata,
ketika melihat pasangan-pasangan bahagia di sebelah sana,
yang bertatapan mesra dengan tangan saling bergenggam erat.
Menggenggam hati bukan birahi.
Sumpah bukan sirik…
bukan iri…
BUKAAAAN!!!
Saya hanya merindukan saat-saat penuh cinta.
(dengan hati yang penuh cinta tentunya, bukan setengah, seperempat atau seperlima ;p)
Indah banget lho pemandangan sepasang kekasih yang bergengaman tangan.
Menggenggam jemari sambil menyelami hati dari mata yang berbinar cinta.....
Saya kangen di genggam seperti itu...
S aya rindu mengintip hati indah
dari matanya yang menatap saya dengan penuh cinta.
Saya pernah sebahagia mereka.
Saya pernah.
Dan saya rindu saat-saat itu.
Sayup-sayup terdengar suara-suara merdu dibelakang sana….
Singsabaaar yah sayaaaaaaaaaaaaaaaaaaang :)
Dan kerinduan ini pun semakin mengganggu…
….
….
….
….
(((...is it okay if i miss you???!!!)))
dari matanya yang menatap saya dengan penuh cinta.
Saya pernah sebahagia mereka.
Saya pernah.
Dan saya rindu saat-saat itu.
Sayup-sayup terdengar suara-suara merdu dibelakang sana….
Singsabaaar yah sayaaaaaaaaaaaaaaaaaaang :)
Dan kerinduan ini pun semakin mengganggu…
….
….
….
….
(((...is it okay if i miss you???!!!)))
Aku Ingin
Aku ingin membunuhmu!
Membenamkanmu sampai mati tak bergerak lagi.
Aku ingin membunuhmu!
Agar aku bisa tersenyum tanpa harus berlari
mengejar dengan sisa nafasku.
Aku ingin membunuhmu!
Kamu terlalu sombong.
Menolak menjadi sahabatku.
Sia sia semua bujuk rayu,
percuma memaksamu untuk kembali.
Kamu terus melaju tanpa ragu-ragu.
Lelah aku memohon.
Kamu tak peduli...
Tak bisakah kamu diam tak bergerak?
Tak bisakah kamu mati sekarang?
Aku mohon...biarkan aku menikmati keindahanmu
Saat ini.
sekali ini saja.
Diamlah sesaat.
Membeku seperti batu.
Jangan bergerak
Atau mati sajalah kamu..daripada aku terpaksa membunuhmu
dengan sisa tenagaku...
((ugh...susahnya bersahabat dengan waktu!!))
Membenamkanmu sampai mati tak bergerak lagi.
Aku ingin membunuhmu!
Agar aku bisa tersenyum tanpa harus berlari
mengejar dengan sisa nafasku.
Aku ingin membunuhmu!
Kamu terlalu sombong.
Menolak menjadi sahabatku.
Sia sia semua bujuk rayu,
percuma memaksamu untuk kembali.
Kamu terus melaju tanpa ragu-ragu.
Lelah aku memohon.
Kamu tak peduli...
Tak bisakah kamu diam tak bergerak?
Tak bisakah kamu mati sekarang?
Aku mohon...biarkan aku menikmati keindahanmu
Saat ini.
sekali ini saja.
Diamlah sesaat.
Membeku seperti batu.
Jangan bergerak
Atau mati sajalah kamu..daripada aku terpaksa membunuhmu
dengan sisa tenagaku...
((ugh...susahnya bersahabat dengan waktu!!))
Kamis, 15 Januari 2009
Kolam itu Berada di bawah sinar bulan
pada suatu hari di sebuah malam yang tak pernah kuduga sebelumnya . . . sebuah bayangan berlalu melaluinya.. melalui celah sempit masa lalu yang sedang kunikmati sekarang..
kemudian seekor peri malam menemuiku pagi ini menyapa dengan riang seolah seperti pernah mengenal aku sebelumnya sedangkan mataku ini masih tertutup oleh kabut yang masih tebal bersaut di depan mukaku, kusapa kembali dirinya dengan penuh perasaan semu yang aku sendiri tak pernah mengerti..
Sebelumnya aku tak pernah sadari kehadirannya, aku selalu lebih suka mematutkan diriku dari pantulan bayangan diriku diatas kolam itu..namun saat aku mulai merasakan kehadiranya.. kini aku sadari… bahwa aku telah berjalan terlalu jauh kedalam kolam itu… aku mengikuti peri itu sampai aku tidak sadarkan diri aku telah membawa diriku ke dalam kolam itu…..
aku berlari ke pinggiran kolam karena sadar terlalu berbahaya buatku berada ditengah kolam.. mungkin itu hanya sugestiku tapi begitulah adanya.. aku bukanlah makhluk air yang bisa bertahan hidup dengan menghirup air… aku adalah makhluk darat yang telah terbiasa dengan udara….
setelah aku sampai dipinggir kolam.. kuistirahatkan sejenak paru paruku sambil aku lihat kembali makhluk rupawan yang terus menerus seolah menuju padaku semua keceriaanya….
aku kemudian menangis… aku menangis karena sadar.. aku takkan pernah dapat menangkap malaikat itu… karena kata orang orang peri itu adalah milik salah satu roh penjaga pohon di hutan itu…
aku bukannya takut dengan roh itu.. tapi aku menghormatinya hingga aku tak mencoba menangkapnya itu.. lagi…
namun tanpa kusadari air mataku di keringkan oleh hembusan kepak sayap bijaksananya… sekali lagi aku terpikirkan untuk menangkapnya… tapi aku hanyalah manusia… mampukah aku hidup dengan mahluk indah yang telah cukup lama menjadi milik roh hutan..?? bisakah aku mengubah cara hidupku yang telah terbiasa dengan udara busuk yang terus menerus kuhirup ini..??
jujur dari dalam hatiku aku memang menginginkannya.. aku ingin bisa terus merasakan hangatnya cahaya keceriaan setiap dia mengepakkan sayapnya… aku ingin memiliki air matanya agar aku bisa membuatnya tertawa… aku ingin menjadi bagian dari hidupnya….
andai saja aku tak pernah berada di kolam ini mungkin aku takkan pernah mengetahui jika ada makhluk seindah dirinya….
kusesali kesalahan terindah dalam hidupku ini…….
kemudian seekor peri malam menemuiku pagi ini menyapa dengan riang seolah seperti pernah mengenal aku sebelumnya sedangkan mataku ini masih tertutup oleh kabut yang masih tebal bersaut di depan mukaku, kusapa kembali dirinya dengan penuh perasaan semu yang aku sendiri tak pernah mengerti..
Sebelumnya aku tak pernah sadari kehadirannya, aku selalu lebih suka mematutkan diriku dari pantulan bayangan diriku diatas kolam itu..namun saat aku mulai merasakan kehadiranya.. kini aku sadari… bahwa aku telah berjalan terlalu jauh kedalam kolam itu… aku mengikuti peri itu sampai aku tidak sadarkan diri aku telah membawa diriku ke dalam kolam itu…..
aku berlari ke pinggiran kolam karena sadar terlalu berbahaya buatku berada ditengah kolam.. mungkin itu hanya sugestiku tapi begitulah adanya.. aku bukanlah makhluk air yang bisa bertahan hidup dengan menghirup air… aku adalah makhluk darat yang telah terbiasa dengan udara….
setelah aku sampai dipinggir kolam.. kuistirahatkan sejenak paru paruku sambil aku lihat kembali makhluk rupawan yang terus menerus seolah menuju padaku semua keceriaanya….
aku kemudian menangis… aku menangis karena sadar.. aku takkan pernah dapat menangkap malaikat itu… karena kata orang orang peri itu adalah milik salah satu roh penjaga pohon di hutan itu…
aku bukannya takut dengan roh itu.. tapi aku menghormatinya hingga aku tak mencoba menangkapnya itu.. lagi…
namun tanpa kusadari air mataku di keringkan oleh hembusan kepak sayap bijaksananya… sekali lagi aku terpikirkan untuk menangkapnya… tapi aku hanyalah manusia… mampukah aku hidup dengan mahluk indah yang telah cukup lama menjadi milik roh hutan..?? bisakah aku mengubah cara hidupku yang telah terbiasa dengan udara busuk yang terus menerus kuhirup ini..??
jujur dari dalam hatiku aku memang menginginkannya.. aku ingin bisa terus merasakan hangatnya cahaya keceriaan setiap dia mengepakkan sayapnya… aku ingin memiliki air matanya agar aku bisa membuatnya tertawa… aku ingin menjadi bagian dari hidupnya….
andai saja aku tak pernah berada di kolam ini mungkin aku takkan pernah mengetahui jika ada makhluk seindah dirinya….
kusesali kesalahan terindah dalam hidupku ini…….
Selasa, 02 Desember 2008
Untuk Temanku Tersayang,,,
Aku tahu banget
Hatimu pilu bagai ditusuk sembilu
(hihihihi…cerpen banget yah!)
Aku teramat sadar
Lukamu yang masih basah
Kembali dihujam pengkhianatan
Hingga darah tak kian berhenti mengucur
Aku terlalu yakin
Otak kanan kirimu seolah tak berfungsi
Pusing terputar-putar bagai naik roller coaster
Memikirkan betapa mengapa ini semua harus terjadi padamu
Tapi teman…
Cintanya hanya sekelumit kisah dalam kehidupanmu
Kasihnya hanya setitik bagian dalam dirimu
Sayangnya hanya mendapat sedikit tempat dalam hatimu
Karena kamu punya
Cinta Ibumu
Kasihku
Sayang mantan kekasihmu
Perhatian sahabat-sahabatmu
Jangan khawatir teman…
Kamu bukan orang yang paling malang di dunia
Pengkhianatan cinta hanyalah sesendok teh pembelajaran
Dalam sebuah kuali besar kehidupan
Hatimu pilu bagai ditusuk sembilu
(hihihihi…cerpen banget yah!)
Aku teramat sadar
Lukamu yang masih basah
Kembali dihujam pengkhianatan
Hingga darah tak kian berhenti mengucur
Aku terlalu yakin
Otak kanan kirimu seolah tak berfungsi
Pusing terputar-putar bagai naik roller coaster
Memikirkan betapa mengapa ini semua harus terjadi padamu
Tapi teman…
Cintanya hanya sekelumit kisah dalam kehidupanmu
Kasihnya hanya setitik bagian dalam dirimu
Sayangnya hanya mendapat sedikit tempat dalam hatimu
Karena kamu punya
Cinta Ibumu
Kasihku
Sayang mantan kekasihmu
Perhatian sahabat-sahabatmu
Jangan khawatir teman…
Kamu bukan orang yang paling malang di dunia
Pengkhianatan cinta hanyalah sesendok teh pembelajaran
Dalam sebuah kuali besar kehidupan
Langganan:
Postingan (Atom)