Sabtu, 07 Juli 2007

Kosong Sekosong Kosongnya,,,

Malam ini,
sebelum gue bener-bener pulas,
tiba-tiba ngerasa kosong.
Sekosong-kosongnya.

Ada sesuatu yang begitu besardan berarti selama ini tiba-tiba hilang.
Sesuatu yang gue gak kira ada.
Malah gak pernah gue pikirin.
Tiba-tiba hilang...

Gue jadi inget,
waktu bude gue kehilangan anak pertamanya untuk selamanya.
Dia pasti ngerasa kosong dan sedih luar biasa.
Lebih kehilangan dan sedih dari gue sekarang.

Tiba-tiba aja hati gue basah.
Oleh air matanya sendiri.
Dada gue bisa ngerasain.
Dan badan gue jadi lemes.

Pelan-pelan gue pikirin.
Apa yang sebenarnya diambil.
Apa yang sekarang udah gue gak punya lagi.
Yang begitu berarti.Begitu besar dan bermakna.
Memberi nafas bagi hidup gue.

Di hati kecil gue,
sebenarnya udah tau jawabnya.
Tapi gue terlalu sadis sama diri gue sendiri.
Jadi akan gue simpen terus dalam hati gue.
Bukan karena gue gak mau berbagi.
Atau melepas perasaan ini.
Tapi memang perasaan ini bukan milik gue.

Mereka cuma dititipin sebentar sama gue.
Di waktu yang berlari cepat itulah,
mereka adalah segalanya yang ada di pikirin gue.
Bukan cuma di pikiran.
Tapi juga di dalam sini.

Kekosongan ini adalah ketakutan gue.
Takut kalau mereka akan melupakan gue.
Takut kalau pernah ada di antara kitajadi gak ada sama sekali besoknya.

Dan kalau itu beneran terjadi,
hati gue pasti gak terima.
Di malam ini juga,
gue mempersiapkan diri.
Supaya kalau besok datang,
dan semua tentang kita harus hilang,
gue bisa menyimpan mereka di hati gue aja.

Sampai nanti hati ini harus bicarakepada yang membuatnya.

Rabu, 03 Januari 2007

Berpisah,,???

Kenapa harus pergi,
kalau nanti akan kembali
dan sayangmu masih di sini?

Ada apa di sana,
sehingga bukan hanya jiwa
bahkan ragamu hendak kamu bawa?
Lalu siapa akan temani aku di sini?
Siapa pula akan temani kamu di sana?

Apa bedanya di sana dan di sini?
Apa yang tak kamu dapatkan di sini
yang kamu dapatkan di sana?

Kalau kam pergi,
lalu bagaimana aku bisa melihatmu?
Bagaimana kita bisa bercanda?
Bagaimana kita bisa berbagi?
Kamu ingin aku mengenangmu
sementara kamu belum di alam baka?

Dan di atas segalanya,
kita sedang menenun kenangan.
Kita sedang membuka pintu Allah.
Kita, ya, kamu dan aku.
...
Sayangku, kalau
di sini bumi Tuhan dan
di sana bumi Tuhan.
Di sini langit Allah,
di sana langit Allah...
kita tak akan pernah berpisah.

with Love in Nanggroe Aceh Darussalam
^_^ P2KP ^_^

Selasa, 02 Januari 2007

When You Love someone,,,,,

Ketika sebuah benih sayang tumbuh,
berkembang,dan menancapkan akar sekuat-kuatnya ke dalam sebidang hati,
tumbuhlah rasa lain..
rasa yang memicu nadi berdetak lebih cepat,
menyimbahkan peluh tak kasat mata,
pun tak pelak menyerap energi,
rasa yang terselip di dalam salah satu bilik otak
yang terus berputar di malam hari

Rasa itu bernama takut,
takut tidak dicintai,
takut tidak dihargai,
takut tidak diterima,
takut dikhianati,
takut disakiti,
takut kehilangan,
takut, takut, dan takut..

Mungkinkah rasa takut itu dipetik,
ditanam,lalu tumbuh dalam wujud lain?
Rasa tulus misalnya,
hingga kita bisa tulus mencintai,
tulus memberi,
tulus menghargai,
tulus menerima,
tulus membahagiakan,
tulus merelakan

Dan saat itu mekarlah senyuman,
merekah dari hari ke hari,
menyambut teriknya matahari,
atau lembutnya cahaya bulan,
merangkul erat sebuah hati.

Minggu, 18 Juni 2006

Doa'in Tante aku ya,,

Kali ini wajahnya tetap pucat.
Meski tak sepucat dua minggu lalu ketika terakhir kali saya mengunjunginya.
Saat itu selang-selang besar menembus mulut dan hidungya.
Mulutnya menganga, dadanya turun naik dengan nafas yang sesak.
Matanya terpejam rapat, menahan kesakitan yang amat sangat.
Sesekali ia berbatuk hingga cairan kental meloncat dari mulut dan hidungnya.
Saya cuma bisa menangis tertahan, menyaksikan deritanya sambil memegang tangannya
yang dingin.Tante kesayangan saya terbaring sakit sudah hampir sebulan.
Koma.Minggu lalu, dia sudah menolak untuk makan.
Menolak untuk berkomunikasi dengan siapapun.
Tidak ada lagi kontak mata,
dia memilih memejamkan mata dari pada melihat orang dengan pandangan kosong.
Bagian tubuh sebelah kanannya sudah tidak bisa lagi di gerakkan.
Beku.Minggu lalu juga,
Dokter dan pihak rumah sakit,
meminta ijin keluarga untuk mengambil cairan yang terletak di kepala. Cairan yang katanya menyumbat proses kerja syaraf-syaraf kepala.
Saya gak pernah paham bahasa kedokteran.
Pihak rumah sakit menganalogikan cairan itu ibaratnya seperti bisul yang meradang yang nanahnya harus dikeluarkan.
Kami sekeluarga pasrah.Hanya bisa berdoa mengharap segala yang terbaik untuk kesembuhannya.

Alhamdulilah operasinya berjalan lancar.
Semalam saya mengunjunginya lagi.
Dia masih berada dalam ruangan ICU.
Saya menyapanya.
Kali ini ada kontak mata.
Diapun bisa menjawab pertanyaan saya,
walaupun hanya dengan sepatah kata tanpa suara.
”Maaf ima baru nengokin tante lagi, ima cuma bisa ke sini Sabtu Minggu”dari gerakan bibirnya,saya membaca kalimat ”gak papa” tanpa mengeluarkan suara.
Kini tangannya sudah bisa menggenggam tangan saya.
Walaupun tanpa tenaga
Kini ia bisa tersenyum membalas senyum saya.
Pandangannya tidak lagi kosong.
Saya membalas pandangannya,
saya sedih melihat keadaannya.Kepalanya gundul, berbalut perban.
Air matanya pelan-pelan menetes...
(((Tolonggg saya tidak ingin membuatnya menangis)))

Saya tidak tahu harus bercerita apa padanya.
Saya takut malah membuatnya tersiksa dengan semua cerita yang tak mampu ia komentari.
Saya gak kuat terus-terusan menarik bibir ini untuk membuat senyuman,
ketika saya ingin menangis menyaksikan kesakitannya.
Saya mencium pipinya, keningnyadan menghapus air matanya.
“Minggu depan kita ketemu lagi ya tante…“di rumah aja” katanya pelan, nyaris tak terdengar.
saya mengiyakan sambil mencium tangannya.Iya. di rumah.
(amin yaa robal alamin.)

Semoga setiap doa yang ada membawa berkah bagi kita semuadan kesembuhan tante saya. Amin.

Minggu, 09 April 2006

Sang Rasa

Waktu kamu keluar dari rahim,
ada dua malaikat besar yang mendampingimu.
Kalau orang bilang yang satu hitam,
yang satu putih,itu kebohongan terbesar abad ini.
Mereka tidak berwarna.Dan yang lebih hebatnya,
keduanya adalah satu.Bukan cuma bersatu,
tapi satu.

Ketika tali pusar kamu dipotong,
salah satu malaikat bertugas membuka matamu.
Agar jauh pandanganmu nanti.

Yang satunya lagi membuka lubang hidungmu.
Agar bisa udara kehidupan memenuhi tubuhmu.

Kemudian salah satunya mengurai jari tanganmu,
agar jari-jarimu bisa berbuat banyak buat sesamamu.
Yang satunya mengurai jari kakimu,

agar jauh langkahmu ke depan nanti.
Setelahnya,
satu dari mereka memegang kepalamu,a
gar kamu bisa berpikir,
bertindak dengan logika.
Yang satunya lagi memegang dadamu,
agar kamu bisa berpikir,
bertindak dengan rasa.

Yang terakhir dari ini semua adalah,
mereka berdua menumpukkan tangan mereka di dadamu.
Mereka akan menekannya agar jantungmumulai berdetak.
Memulai kehidupanmu.

Tapi sebelumnya,
kamu diminta untuk membuat sebuah perjanjian.
Perjanjian untuk bertemu kembali.
Bertemu di saat yang telah ditentukan.

Setelah kamu menyetujuinya,
mulailah jantungmu berdetak dengan kencang.
Tangismu memenuhi rongga perempuan
yang sembilan bulan mengandungmu.

Dan ketika saat yang ditentukan itu tiba,
kedua malaikat itu akan datang lagi menemuimu.
Mereka datang agar kamu bisa memenuhi janjimu.
Mereka datang untuk menghentikan detak jantungmu.

Dan setelah detak jantungmu terhenti,
semua anggota ragamu akan membusuk.
Menjadi satu dengan tanah.
Tanpa sisa.
Tanpa arti.

Hanya rasamu yang akan mereka biarkan hidup.
Agar rasamu bisa bercerita tentang segala keindahahan
dan keburukanyang telah dialami matamu.
Agar rasamu bisa bercerita tentang
segala kesegaran dan kebusukan
yang telah dirasakan hidungmu.

Rasamu akan bercerita tentang
segala hal yang telahjari-jari tangamu lakukan. Ciptakan.
Rasamu akan berkisah tentang
aral terjal yang telahkaki-kakimu telusuri. Jelajahi.

Dan yang terakhir,
rasamu akan begitu jujur bercerita,
bagaimana pikiranmu telah mempengaruhinya.
Ketika Ia bertengkar atau berdamai dengan pikiran.
Ketika Ia dan pikiran membuatmu berbuat sesuatu.
Ketika Ia dan pikiran memberikan arti bagi hidupmu.

Dan ketika semua itu bercerita,
kamu hanya boleh diam seribu bahasa.
Karena rasamu akan bercerita bebas
tentang segala kebenaran.
Bahkan kebenaran yang selama hidupmutertutupi oleh pikiranmu.

Jumat, 29 April 2005

KUPU-KUPU DUNIA

ABG-ABG yang memenuhi atau menuh-menuhin Plaza Senayan malam itu,
gak lebih dari pengecut total!Mereka itu takut.
Takut gak ada temen.
Takut gak ada pacar.
Takut gak keren.
Takut jelek.

Padahal yang perempuan badannya langsing-langsing.
Buah dadanya masih mekar dan padat.
Pantatnya masih montok dan kencang.
Entah mengapa, sorot mata mereka kosong dan ragu.
Langkah mereka bukan mengayun,
tapi melayang.
Beberapa diseret.
Lebih memilukan dari pengemis di pinggir jalan.

Yang laki-laki sama juga, sama semua.
Badan mereka masih atletis.
Dada keras dan padat.
Pantat kencang dan montok.
Rambut lebat dan hitam.
Kulit wajah masih bebas keriput.
Entah mengapa, sorot mata mereka kosong dan ragu.
Langkah mereka bukan mengayun, tapi melayang.B
eberapa diseret.
Lebih memilukan dari pengemis di pinggir jalan.

Di malam itu juga di Plaza Senayan,sepasang sejoli sedang bercinta.
Dari mata yang perempuan terpancar sinar yang berkata kepada dunia,
"cinta ini milik aku seorang!"
Dari matanya yang laki-laki terpancar sinar yang berkata kepada dunia,
"cinta ini milik aku seorang!"

Inikah arti sesungguhnya,dunia hanya milik kita berdua dan yang lain hanya numpang?
Inikah arti sesungguhnya,
janji untuk sehidup semati dalam untung dan malang?
Dalam sehat ataupun sakit?

Yang perempuan berjalan tertatih-tatih.
Yang laki-laki berjalan dengan tongkat.
Bukan. Bukan buat gaya-gayaan.
Bukan buat gengsi.
Tapi karena usia mereka sudah sekitar 80 tahunan.F
isik mereka tidak lagi sekuat ABG-ABG itu.
Kulit mereka sudah keriput.
Payudara yang perempuan sudah rata dengan dada.
Kaki yang laki-laki sudah kena osteoporosis.
Pantat mereka berdua sudah tepos dan gelembyeran.
Dari mana pancaran mata mereka berasal?
Dari mana kepercayaan diri mereka berawal?

Cinta?

(pasti Tuhan ingin menyampaikan sesuatu untuk gue dengan memperlihatkan ini semua.)

Senin, 04 April 2005

Dibatas Sabar Dan Sadar

waktu udah gak tau waktu lagi.
warna udah kelihatan sama semua
.kata-kata udah kehilangan maknanya.

pengennya mundur.
udahan.biar lega.
biar bisa hidup lagi.

ada 7 darah panas
yang setiap detik berkata
"kalau begini gimana?

"ada 7 tulang muda
yang setiap jam berteriak
"kalau begitu gimana?
"yang di dalam jadi gemetaran.
gak tau lagi apa yang mau dirasa

.di batas kesabaran dan kesadaran.
ternyata ada cinta.
gak peduli tulus atau monyet.
terima kasih.