Selasa, 27 Januari 2009

Berhentilah Menjadi Gelas


Bukan hidup jika tanpa masalah.
Namun meratapi kesedihan dan nasib buruk
hanya membuat kita makin menjauh
dari hal-hal indah yang patut kita syukuri.
Seperti segenggam garam yang terlarut dalam segelas air.
Jika kita minum, perut jadi mual dan mau muntah.
Tapi jika segenggam garam itu kita tabur pada danau yang bening dan jernih,
apakah kita masih merasakan rasa asinnya?
Tentu saja tidak.
Karena air danau berasal dari aliran sumber air di atas
yang terus mengalir menjadi sungai kecil di bawah.
Dan sudah pasti, air danau akan menghilangkan rasa asin yang tercipta dari segenggam garam.
Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam.
Tidak kurang, tidak lebih.
Hanya segenggam garam.
Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kita alami
sepanjang kehidupan sudah dikadar oleh Allah,
sesuai untuk diri kita.
Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah.
Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian.
Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi,
yang bebas dari penderitaan dan masalah.
Namun rasa 'asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat
tergantung dari besarnya Qalbu yang menampungnya.
Jadi supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas.
Jadikan Qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.

1 komentar:

Arif mengatakan...

pecahkan saja gelasnya biar ramai
biar mengaduh sampai gaduh
dst ..dst...

Ceile kok larinya ke puisi rangga wakakakakakaka :)) :))